Laman

Kamis, 01 Oktober 2015

Sistem Kepercayaan Pada Zaman Prasejarah



 
1. Animisme
Kepercayaan manusia purba terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal dunia. Menurut mereka, arwah nenek moyang selalu memperhatikan mereka dan melindungi, tetapi akan menghukum mereka juga kalau melakukan hal-hal yang melanggar adat. Dengan demikian, orang tua yang mengetahui dan menguasai adat nenek moyang akan menjadi pemimpin masyarakat. Penghormatan kepada nenek moyang dilakukan dengan pimpinan orang tua tersebut, yang diterima oleh masyarakat sebagai ketua adat.
2. Dinamisme
Kepercayaan bahwa semua benda mempunyai kekuatan gaib, seperti gunung batu, dan api. Bahkan benda-benda buatan manusia diyakini juga mempunyai kekuatan gaib seperti patung, keris, tombak, dan jimat. Sesungguhnya proses pembuatan benda-benda megalitik, seperti menhir, arca, dolmen, punden berundak, kubur peti batu, dolmen semu atau pandhusa, dan sarkofagus dilandasi dengan kayakinan bahwa di luar diri manusia ada kekuatan lain. Dilandasi anggapan bahwa menhir atau arca, sebagai lambang dan takhta persemayaman roh leluhur, kedua jenis peninggalan itu digunakan sebagai sarana pemujaan terhadap roh nenek moyang. Dolmen dan punden berundak digunakan untuk tempat upacara. Pendirian punden berundak juga berdasarkan atas arah mata angin yang diyakini memiliki kekuatan gaib atau tempat-tempat yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh nenek moyang.
3. Totemisme
Kepercayaan atas dasar keyakinan bahwa binatang-binatang tertentu merupakan nenek moyang suatu masyarakat atau orang-orang tertentu. Binatang-binatang yang dianggap sebagai nenek moyang antara orang yang satu dengan orang atau masyarakat yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Biasanya binatang-binatang yang dianggap nenek moyang itu, tidak boleh diburu dan dimakan, kecuali untuk keperluan upacara tertentu.
 Sistem kepercayaan pada zaman Pra Sejarah
Pada zaman pra sejah ini kepercayaan yang di anut adalah animism yanitu kepercayaan  animism yaitu mereka percayaan bahwasanya roh orang yang telah meninggal masih ada di sekeliling mayat, dan mereka masih membutuhkan seperti semasa hidupnya, sehingga dapat di maklumi jika jasadnya tetap utuh, karena mayat di tempatkan di dalam rumah-rumah batu gar tidak di ganggu oleh binatang buas.
Rumah batu ini banyak terdapat di daerah-daerah Tanjung Aro Gunung Megang, dan Tegur Wangi ketika di lakukan penggalian-penggalian oleh penduduk setempat pada masa pendudukan jepang, dan di temukan pula manik-manik yang berwarna warni. Akan tetapi tidak di temukan sisa-sisa tulang belulang.
Pohon yang besar, sungai yang lebar, gunung dan bukit, di anggap mempuyai penunggu (mahluk-mahluk halus) yang dapat mencelakan seseorang apabila dia melakukan hal yang tidak baik. Puncak dempo misalnya di beri sajian-sajian oleh oarng-orang tertentu, sebagai warisan masa pra sejrah yang mempercai hal tersebut. Bahwa di luar manusia masih ada mahluk halus yang dapat menguasai. Keyakinan akan adanya dunia arwah terlihat dari arah penempatan kepala mayat yang diarahkan ke tempat asal atau tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Tempat yang biasanya diyakini sebagai tempat roh nenek moyang adalah arah matahari terbit atau terbenam dan tempat-tempat yang tinggi misalnya, gunung dan bukit. Bukti-bukti mengenai hal itu terlihat dari hasil penggalian kuburan-kuburan kuna di beberapa tempat, seperti Bali dan Kematian, menunjukkan arah kepala mayat selalu ke arah timur atau barat atau kepuncak-puncak gunung dan bukit.
Praktik-praktik kepercayaan animisme terlihat dalam upacara penyelenggaraan upacara-upacara yang berhubungan dengan kematian. Penyelenggaraan upacara kematian dilandasi dengan kepercayaan bahwa suatu kematian itu pada dasarnya
tidak membawa perubahan dalam kedudukan, keadaan, dan sifat seseorang. Dengan landasan itu, penguburan mayat selalu disertai dengan bekal-bekal kubur dan wadah mayat yang disesuaikan kedudukannya, agar kedudukan si mati dalam alam arwah sama seperti ketika masih hidup.
Inti kepercayaan tersebut adalah pemujaan dan perhormatan kepada roh orang yang telah meninggal, terutama penghormatan dan pemujaan terhadap roh nenek moyang. Di dalam gua-gua ditemukan kerangka manusia yang telah dikuburkan. Temuan semacam ini sangat penting untuk meneliti adat mengubur mayat dengan kepercayaan yang mereka anut. Para sejarawan berkesimpulan bahwa pada masa itu orang sudah mempunyai kepercayaan tertentu mengenai kematian.
Tradisi mendirikan bagunan-bangunan megalithikum selalu berhubungan dengan kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dengan yang telah mati (mega berarti besar, lithos berarti batu). Terutama kepercayaan kepada adanya pengaruh yang kuat dari orang yang telah meninggal terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman. Bangunan-bangunan batu besar yang didirikan menjadi medium penghormatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar