Analisa gas darah merupakan salah
satu alat diagnosis dan penatalaksanaan penting bagi pasien untuk mengetahui
status oksigenasi dan keseimbangan asam basanya. Manfaat dari pemeriksaan
analisa gas darah tersebut bergantung pada kemampuan dokter untuk
menginterpretasi hasilnya secara tepat.
Pemahaman yang mendalam tentang
fisiologi asam basa memiliki peran yang sama pentingnya dengan pemahaman
terhadap fisiologi jantung dan paru pada pasien-pasien kritis. Telah banyak
perkembangan dalam pemahaman fisiologi asam basa, baik dalam suatu larutan
maupun dalam tubuh manusia. Pendekatan tradisional dalam menganalisa kelainan
asam basa adalah dengan menitik beratkan pada rasio antara bikarbonat dan
karbondioksida, namun cara tersebut memiliki beberapa kelemahan. Saat ini
terdapat pendekatan yang sudah lebih diterima yaitu dengan pendekatan Stewart,
dimana pH dapat dipengaruhi secara independent oleh tiga faktor, yaitu strong
ion difference (SID), tekanan parsial CO2, dan total konsentrasi asam lemah
yang terkandung dalam plasma.
Kelainan asam basa merupakan
kejadian yang sering terjadi pada pasien-pasien kritis. Namun, pendekatan
dengan metode sederhana tidak dapat memberikan gambaran mengenai prognosis
pasien. Pendekatan dengan metode Stewart dapat menganalisa lebih tepat
dibandingkan dengan metode sederhana untuk membantu dokter dalam menyimpulkan outcome
pasien.
Analisa Gas Darah
Salah satu faktor utama yang
mempengaruhi oksigenasi sel atau jaringan adalah jumlah oksigen yang terkandung
dalam darah. Tekanan gas darah tersebut dapat diukur dengan menganalisa darah
arteri secara langsung atau melalui pulse oksimetri dengan melihat saturasi hemoglobin.
Analisa gas darah (AGD) telah banyak digunakan untuk mengukur pH, PaO2, dan
PCO2. Akan tetapi, makna dari hasil pengukuran tersebut tergantung pada
kemampuan dokter untuk menginterpretasikannya.
AGD biasanya diambil dari arteri
radialis, meskipun dapat juga dari arteri lainnya seperti arteri femoralis.
Pengambilan darah arteri dapat berakibat spasme, kloting intralumen,
perdarahan, dan hematoma yang pada akhirnya akan menimbulkan obstruksi arteri
bagian distal. Hal ini tidak terjadi jika arteri yang ditusuk memiliki
kolateral yang cukup. Arteri radialis lebih dipilih karena memiliki cukup
kolateral untuk menghindari terjadinya obstruksi dibandingkan dengan arteri
brakhialis atau femoralis. Selain itu, letak arteri radialis lebih superfisial,
mudah diraba dan difiksasi. Darah arteri diambil sebanyak 3 ml pada spuit yang
sebelumnya telah diberikan heparin 0,2 ml. Sampel darah yang telah diambil
harus terbebas dari gelembung udara dan dianalisa secepatnya. Hal ini
disebabkan komponen seluler pada sampel masih aktif bermetabolisme, sehingga
akan mempengaruhi tekanan gas.
Interpretasi Hasil AGD
Secara singkat, hasil AGD terdiri
atas komponen:
- pH atau ion H+, menggambarkan apakah pasien mengalami asidosis atau alkalosis. Nilai normal pH berkisar antara 7,35 sampai 7,45.
- PO2, adalah tekanan gas O2 dalam darah. Kadar yang rendah menggambarkan hipoksemia dan pasien tidak bernafas dengan adekuat. PO2 dibawah 60 mmHg mengindikasikan perlunya pemberian oksigen tambahan. Kadar normal PO2 adalah 80-100 mmHg
- PCO2, menggambarkan gangguan pernafasan. Pada tingkat metabolisme normal, PCO2 dipengaruhi sepenuhnya oleh ventilasi. PCO2 yang tinggi menggambarkan hipoventilasi dan begitu pula sebaliknya. Pada kondisi gangguan metabolisme, PCO2 dapat menjadi abnormal sebagai kompensasi keadaan metabolik. Nilai normal PCO2 adalah 35-45 mmHg
- HCO3-, menggambarkan apakah telah terjadi gangguan metabolisme, seperti ketoasidosis. Nilai yang rendah menggambarkan asidosis metabolik dan begitu pula sebaliknya. HCO3- juga dapat menjadi abnormal ketika ginjal mengkompensasi gangguan pernafasan agar pH kembali dalam rentang yang normal. Kadar HCO3- normal berada dalam rentang 22-26 mmol/l
- Base excess (BE), menggambarkan jumlah asam atau basa kuat yang harus ditambahkan dalam mmol/l untuk membuat darah memiliki pH 7,4 pada kondisi PCO2 = 40 mmHg dengan Hb 5,5 g/dl dan suhu 37C0. BE bernilai positif menunjukkan kondisi alkalosis metabolik dan sebaliknya, BE bernilai negatif menunjukkan kondisi asidosis metabolik. Nilai normal BE adalah -2 sampai 2 mmol/l
- Saturasi O2, menggambarkan kemampuan darah untuk mengikat oksigen. Nilai normalnya adalah 95-98 %
Dari komponen-komponen tersebut
dapat disimpulkan menjadi empat keadaan yang menggambarkan konsentrasi ion H+
dalam darah yaitu:
Asidosis respiratorik
Adalah kondisi dimana pH rendah
dengan kadar PCO2 tinggi dan kadar HCO3- juga tinggi sebagai kompensasi tubuh
terhadap kondisi asidosis tersebut. Ventilasi alveolar yang inadekuat dapat
terjadi pada keadaan seperti kegagalan otot pernafasan, gangguan pusat
pernafasan, atau intoksikasi obat. Kondisi lain yang juga dapat meningkatkan
PCO2 adalah keadaan hiperkatabolisme. Ginjal melakukan kompensasi dengan
meningkatkan ekskresi H+ dan retensi bikarbonat. Setelah terjadi kompensasi,
PCO2 akan kembali ke tingkat yang normal.
Alkalosis respiratorik
Perubahan primer yang terjadi adalah
menurunnya PCO2 sehingga pH meningkat. Kondisi ini sering terjadi pada keadaan
hiperventilasi, sehingga banyak CO2 yang dilepaskan melalui ekspirasi. Penting
bagi dokter untuk menentukan penyebab hiperventilasi tersebut apakah akibat
hipoksia arteri atau kelainan paru-paru, dengan memeriksa PaO2. Penyebab
hiperventilasi lain diantaranya adalah nyeri hebat, cemas, dan iatrogenik
akibat ventilator. Kompensasi ginjal adalah dengan meningkatkan ekskresi
bikarbonat dan K+ jika proses sudah kronik.
Asidosis Metabolik
Ditandai dengan menurunnya kadar
HCO3-, sehingga pH menjadi turun. Biasanya disebabkan oleh kelainan metabolik
seperti meningkatnya kadar asam organik dalam darah atau ekskresi HCO3-
berlebihan. Pada kondisi ini, paru-paru akan memberi respon yang cepat dengan
melakukan hiperventilasi sehingga kadar PCO2 turun. Terlihat sebagai pernafasan
kussmaul. Pemberian ventilasi untuk memperbaiki pola pernafasan justru akan
berbahaya, karena menghambat kompensasi tubuh terhadap kondisi asidosis. Untuk
mengetahui penyebab asidosis metabolik, dapat dilakukan penghitungan anion gap
melalui rumus
(Na+ + K+) –
(HCO3– + Cl–)
Batas normal anion gap adalah 10 –
12 mmol/l. Rentang normal ini harus disesuaikan pada pasien dengan hipoalbumin
atau hipofosfatemi untuk mencegah terjadinya asidosis dengan anion gap yang
lebih. Koreksi tersebut dihitung dengan memodifikasi rumus diatas menjadi
(Na+ + K+) –
(HCO3– + Cl–) – (0,2 x albumin g/dl + 1,5 x fosfat
mmol/l)
Asidosis dengan peningkatan anion
gap, disebabkan oleh adanya asam-asam organik lain seperti laktat, keton,
salisilat, atau etanol. Asidosis laktat biasanya akibat berkurangnya suplai
oksigen atau berkurangnya perfusi, sehingga terjadilah metabolisme anaerob
dengan hasil sampingan berupa laktat. Pada keadaan gagal ginjal, ginjal tidak
mampu mengeluarkan asam-asam organik sehingga terjadi asidosis dengan
peningkatan anion gap.
Asidosis dengan anion gap yang normal
disebabkan oleh hiperkloremia dan kehilangan bikarbonat atau retensi H+.
Contohnya pada renal tubular asidosis, gangguan GIT (diare berat), fistula
ureter, terapi acetazolamide, dan yang paling sering adalah akibat pemberian
infus NaCl berlebihan.
Alkalosis metabolik
Adalah keadaan pH yang meningkat
dengan HCO3- yang meningkat pula. Adanya peningkatan PCO2 menunjukkan
terjadinya kompensasi dari paru-paru. Penyebab yang paling sering adalah
iatrogenik akibat pemberian siuretik (terutama furosemid), hipokalemia, atau
hipovolemia kronik dimana ginjal mereabsorpsi sodium dan mengekskresikan H+,
kehilangan asam melalui GIT bagian atas, dan pemberian HCO3- atau prekursornya
(laktat atau asetat) secara berlebihan. Persisten metabolik alkalosis biasanya
berkaitan dengan gangguan ginjal, karena biasanya ginjal dapat mengkompensasi
kondisi alkalosis metabolik.
Keseimbangan Asam Basa
pH adalah derajat keasaman yang
merupakan log negatif dari konsentrasi ion H+. Konsentrasi ion H+ ini diatur
dengan sangat ketat, karena perubahan pada konsentrasinya akan mempengaruhi
hampir semua proses biokimia, termasuk struktur dan fungsi protein, dissosiasi
dan pergerakan ion, serta reaksi kimia obat. Berbeda dengan ion-ion lain, kadar
ion H+ dijaga dalam nanomolar (36-43 nmol/l ~ pH 7,35-7,45).
Sebagian besar asam yang masuk dalam
tubuh berasal dari proses respirasi, yaitu CO2 yang membentuk asam karbonat,
sedangkan sisanya berasal dari metabolisme lemak dan protein. Mekanisme tubuh
untuk menjaga pH tetap dalam rentang normalnya diketahui melalui tiga
mekanisme,
- Kontrol respirasi terhadap PaCO2 oleh pusat pernafasan yang mengatur ventilasi alveolar. Semakin banyak ion H+ dalam darah, semakin banyak CO2 yang dibuang melalui paru-paru. Mekanisme ini cepat dan sangat efektif untuk mengkompensasi kelebihan ion H+.
- Pengontrolan ginjal terhadap bikarbonat dan ekskresi asam-asam non-volatil. Mekanisme ini relatif lebih lama (jam sampai hari) jika dibandingkan dengan kontrol respirasi.
- Sistem buffer oleh bikarbonat, sulfat, dan hemoglobin yang meminimalkan perubahan asam-basa akut.
Metode Henderson – Hasselbach (H –
H)
Persamaan H – H menitik beratkan
pada sistem buffer asam karbonat yang memegang peranan penting dalam pengaturan
asam basa melalui ginjal dan paru – paru. Karbondioksida bereaksi dengan air
untuk membentuk HCO3- dan H+.
CO2
+ H2O
↔
H2CO3
↔ H+
+ HCO3-
Berdasarkan hukum kekekalan massa,
maka [H+] [HCO3-] / [H2CO3] = konstan. Sehingga, dapat ditentukan bahwa pH =
pKa + log([H+] [HCO3-] / [H2CO3]). Dari persamaan tersebut, pH dapat dikatakan
sebagai rasio antara bikarbonat dan karbondioksida. Perubahan pH dapat
disebabkan oleh perubahan CO2 (respirasi) atau HCO3- (metabolik). Sistem
kompensasi tubuh berusaha mempertahankan rasio tersebut tetap 20:1.
Namun, persamaan H – H tidak
membahas mekanisme perubahan pH akibat efek metabolik sejelas efek
respiratoriknya, karena secara in vivo kadar bikarbonat sangat tergantung pada
tekanan parsial karbondioksida (pCO2). Oleh sebab itu, muncullah
konsep standard bikarbonat dan standard base excess (BE) untuk membantu
menghitung efek metabolik terhadap perubahan pH. Standard bikarbonat adalah
jumlah bikarbonat yang seharusnya ada pada PCO2 = 40 mmHg, sehingga dapat
menyingkirkan efek respirasi pada suatu perubahan pH. Sementara standard BE
melihat jumlah asam (dalam mmol/l) yang harus ditambahkan atau dikurangkan pada
sampel darah yang sama dengan Hb 5,5 g/dl untuk mencapai pH normal pada PCO2 40
mmHg. Semakin negatif BE menunjukkan sampel darah tersebut semakin asam.
Metode Stewart
Pada tahun 1983, Stewart
memperkenalkan metode pendekatan asam basa yang diakui secara luas. Metode ini
menggunakan pendekatan matematis dan menyimpulkan bahwa jika hukum keseimbangan
muatan terjadi pada suatu larutan, maka pH atau konsentrasi ion H+ akan
ditentukan terutama oleh derajat disosiasi air. Terdapat tiga variabel yang
masing-masing dapat mempengaruhi derajat disosiasi air, yaitu PCO2, strong ion
difference (SID), dan konsentrasi total asam lemah (Atot). Ion bikarbonat dan
asam lemah merupakan variabel yang terikat dan tidak mempengaruhi pH secara
langsung.
Diagram1. Pendekatan Asam Basa
Metode Stewart
Pengaruh PCO2 sudah dijelaskan
melalui persamaan H – H, bahwa perubahan pada CO2 hasil respirasi secara
langsung juga akan mengubah konsentrasi ion H+.
Ion-ion kuat adalah ion yang dalam
jumlah besar terdapat dalam bentuk terdisosiasi atau ion bebas dalam plasma.
Pada manusia, SID adalah selisih antara kation kuat (Na+, K+, Mg2+, dan Ca2+)
dengan anion kuat (Cl- dan laktat) yang nilai normalnya adalah 42 mmol/l. SID
memiliki pengaruh kuat terhadap disosiasi air, peningkatan kation total akan
menurunkan konsentrasi H+ dan menurunkan pH. Begitu pula sebaliknya,
peningkatan jumlah anion total akan menurunkan pH. Pada dasarnya plasma tidak
bisa bermuatan, sehingga dibutuhkan muatan negatif untuk menetralkan kelebihan
muatan (SIDe). SIDe terutama dibentuk oleh ion yang sulit berdisosiasi seperti
HCO3- dan asam lemah yang terdisosiasi seperti albumin, fosfat, dan sulfat.
Strong ion gap (SIG) adalah selisih antara SID dan SIDe, menggambarkan ion-ion
yang tidak terukur seperti keton, sulfat, atau asam yang berasal dari luar.
Perhitungan ini mirip dengan anion gap, namun memiliki kelebihan karena
memperhitungkan albumin dan fosfat. SIG juga dapat menjadi prediktor yang
sensitif bagi kegawatan pada pasien-pasien kritis. Atot adalah konsentrasi
total asam-asam lemah non-volatil dalam plasma, fosfat inorganik, protein serum
dan albumin.
Gambar1. Keseimbangan Ion-ion Dalam
Plasma
Pendekatan Stewart tidak merubah
klasifikasi kelainan asam basa sebelumnya, begitu pula dengan BE tetap dapat
digunakan untuk menghitung jumlah perubahan SID yang telah terjadi dibandingkan
dengan nilai normal. Namun dengan pendekatan ini, kita dapat melihat peran
ion-ion dalam mengembalikan pH darah. Contoh kasus adalah, untuk merubah BE
dari -20 menjadi -10 mEq/l adalah dengan memberikan NaHCO3, dimana terjadi
peningkatan konsentrasi Na+ dalam serum sebesar 10 mEq/l.
Implikasi lain yang penting dari
pendekatan Stewart adalah peran ion klorida dalam homeostasis asam basa.
Ion-ion yang terutama mempengaruhi SID adalah Na+ dan Cl-. Peningkatan Cl-
relatif terhadap Na+ akan menurunkan SID dan begitu pula pH. Peran Cl- menjadi
lebih penting dalam mengatur pH, karena Na+ dikontrol secara lebih ketat untuk
mengatur tonus plasma. Contoh kasus adalah pada muntah yang terus menerus
sering menyebabkan alkalosis. Pendekatan lama menganggap hal ini disebabkan
karena kehilangan ion H+ melalui HCl. Namun, hipotesis Stewart menganggap hal
ini terjadi akibat Cl- (anion kuat) berkurang tanpa diimbangi oleh berkurangnya
kation kuat, sehingga terjadi peningkatan SID. Pada akhirnya hal ini akan
menghambat disosiasi air dan ion H+ berkurang. Penatalaksanaan kasus ini adalah
dengan pemberian normal saline sehingga ion klorida tergantikan. Kasus lain adalah
asidosis hiperkloremik yang juga sering terjadi akibat pemberian infus normal
saline berlebihan. Normal saline mengandung ion sodium dan klorida sebanyak 150
mEq/l dibandingkan dengan konsentrasi plasma 135 dan 100 mEq/l. Hal ini
menyebabkan penurunan SID dan pH.
Pada akhirnya, dapat disimpulkan
bahwa kedua metode sebenarnya dapat digunakan. Metode pendekatan
Handerson-Hasselbach lebih mudah diterapkan, terutama untuk mengklasifikasikan
jenis kelainan asam basa yang terjadi. Sedangkan, pendekatan Stewart lebih
berguna dalam menghitung kelainan asam basa secara kualitatif dan juga untuk
menyusun hipotesis mekanisme yang menyebabkan timbulnya kelainan asam basa pada
pasien.
Gangguan Keseimbangan Asam Basa Pada
Pasien Kritis
Beberapa kelainan pada AGD dapat
digunakan sebagai marker resiko kematian pada pasien-pasien kritis. Diantaranya
adalah terjadinya asidosis laktat, BE yang tinggi, asidosis hiperkloremik, efek
asidosis terhadap sistem imun, dan SIG yang tinggi.
Sebagian besar pasien-pasien trauma
menderita asidosis laktat akibat hovolemia atau hipoperfusi. Perbaikan asidosis
laktat berkorelasi dengan survival pasien berdasarkan hubungan waktu. Keadaan
asidosis laktat yang persisten, meskipun telah terjadi perbaikan tanda vital,
berhubungan dengan resiko infeksi dan kematian.
Kadar BE yang tinggi dapat menjadi
prognosis yang buruk bagi pasien-pasien, namun hal tersebut tergantung pada
jenis penyakit atau trauma pasien. BE lebih memiliki nilai prognostik pada
pasien-pasien dengan cedera kepala. Selain itu, jumlah SIG juga memiliki nilai
prognostik pada pasien-pasien kritis. Dikatakan nilai SIG >5 pada pasien
yang membutuhkan resusitasi atau >2 pada pasien asidosis metabolik adalah
prediktif untuk mortalitas.
Kondisi hiperkloremik diketahui
dapat menyebabkan disfungsi renal dan gangguan pembekuan darah. Asidosis diduga
dapat menstimulasi sel T-protein kinase sehingga memperparah reaksi peradangan
pada pasien kritis.
DAFTAR PUSTAKA
- Orlando Regional Healthcare. Interpretation of Arterial Blood Gas. Orlando Regional Healthcare. 2004. p 4
- Kellum JA. Determinants of blood pH in health and disease. Crit Care 2000; 4: 6–14.
- Kaplan L, Frangos S. Clinical review: acid–base abnormalities in the intensive care unit – part II. Crit Care 2005; 9: 198–203.
- Williams AJ. ABC of Oxygen: Assessing and Interpreting Arterial Blood Gases and Acid-Base Balance. BMJ 1998; 317: 1213-16
- Diunduh dari www.wikipedia.com pada tanggal 12 Oktober 2008
- Hubble SMA. Acid-Base and Blood Gas Analysis. Anesthesia and Intensive Care Medicine 2007; 11: 471-3
- Fletcher S, Dhrampal A. Acid-Base Balance and Arterial Blood Gas Analysis. Surgery 2003; 7:61-5
- Kellum J. Clinical review: reunification of acid–base physiology. Crit Care 2005; 9: 500–7.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar